Friday, July 11, 2014

Mengemis dan Bekerja; Sebuah Pilihan

Suatu ketika seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan tak lama berselang ia pun menyantap makanan. Saat itu datanglah seorang anak kecil menjajakan kue kepada pemuda tersebut, "Pak mau beli kue, Pak?" Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab "Maaf.. Ngga, Ini kan lagi makan".

    Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab "Nggak dik saya sudah kenyang.. kan abis makan..".

    Setelah pemuda itu membayar ke kasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda. Mungkin anak kecil ini berpikir "Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang dirumah". Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini.

    Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan. "Pak mau beli kue saya?", pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan uang Rp 1.500,- dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja.

    "Dik ini uang saya kasih aja ya, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekah dari saya buat adik". Tanpa pikir panjang uang yang diberikan pemuda itu ia ambil..sambil bilang terimakasih pak. belum seberapa jauh melangkah anak kecil tadi menghampiri pengemis yang tidak jauh dari situ kemudian memberikan uang yang tadi diterimanya. Pemuda yang melihat tindakan anak kecil tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah dikasihkan kepada orang lain. Merasa penasaran pemuda itu kembali menghampiri anak kecil itu dan bertanya "Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?".

    Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, "Saya sudah janji sama Emak di rumah, cuma jualan kue emak aja, bukan jadi pengemis, dan saya seneng banget kalo pulang ke rumah bertemu emak, kue buatan emak laku semua. Kata emak kalo uangnya hasil kerja keras lebih enak rasanya.. Emak saya ngga suka kalo saya ngemis.. gitu .. pak".

    Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak dan sudah punya etos kerja bahwa "kerja itu adalah sebuah kehormatan", kalau dia tidak sukses bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja di hadapan ibunya mempunyai nilai yang kurang. Suatu pantangan bagi ibunya, bila anaknya menjadi pengemis, ia ingin setiap ia pulang ke rumah melihat ibu tersenyum menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang.

    Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu "kerja adalah sebuah kehormatan".

Semoga Kisah Mengharukan Anak Kecil Penjaja Kue  di atas bisa menyadarkan kita tentang arti pentingnya kerja. Bukan sekadar untuk uang semata, tetapi adalah KEHORMATAN. Jangan sampai mata kita menjadi "hijau" karena uang sampai akhirnya melupakan apa arti pentingnya kebanggaan profesi dan Kehormatan yg kita miliki. Sekecil apapun profesi itu, kalau kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, pasti akan berarti besar.

source : link

Wednesday, September 30, 2009

Gadis Kecil dan Sang Hujan

Seorang gadis kecil berdiri di depan jendela dengan wajah sendu. matanya menatap kosong ke arah guyuran hujan yang jatuh membasahi bumi. Menatap pohon-pohon yang bermandikan air hujan. jalanan terlihat lengang. hanya satu dua orang yang berlari menerobos hujan dengan payung di tangan. semua memilih meringkuk di dalam rumah yang hangat dengan segelas minuman hangat dan gorengan pengganjal perut.

Gadis kecil itu terdiam membayangkan andai saja rumahnya bisa sehangat itu. gadis kecil menoleh ke dalam rumah. di lihatnya rumah besar yang kosong melompong. tidak ada tawa renyah disana. apa lagi segelas coklat hangat dan wangi pisang goreng panas kesukaannya di atas meja. gadis kecil itu menghela nafas panjang.

Tidak lama, terdengar suara celoteh dan tawa riang anak-anak kecil. gadis kecil itu buru-buru berlari ke jendela dan menatap keluar rumah. di lihatnya banyak anak-anak kecil sebayanya berlarian di tengah hujan. menari di bawah guyuran air. semua tampak riang gembira. mata gadis kecil itu langsung berbinar senang. harapan untuk bermain bersama tersirat di wajahnya. sesaat ingatannya melayang ke masa lalu, saat dia dan kakak laki-lakinya bermain air di taman rumah. ayah mereka menyemprotkan air dari selang membuat hujan buatan untuk mereka. gadis kecil dan kakak laki-lakinya berlarian kesana-kemari menyiramkan air ke ayah mereka. rumah itu penuh gelak tawa dan kebahagiaan. Hingga sang ibu datang membawakan handuk dan segelas susu hangat dan meminta mereka berhenti main air. Gadis kecil itu tersenyum mengingat itu semua.

Seorang anak laki-laki sebayanya menghampiri jendela rumah gadis kecil itu. “ayo main ujan-ujanan. seru tauu..” ujar anak itu yang tampak menggigil kedinginan di bawah hujan. gadis kecil hanya menggeleng dengan wajah sedih. “aku nggak boleh hujan-hujanan sama mama.. kalo mama tahu, aku bisa di marahin.. lagian bentar lagi papa ku pulang.. aku mau main sama papa aja”. anak laki-laki itu tertawa. “ah.. payah lo..” anak laki-laki itu kembali berlarian bersama teman-temannya. mereka tertawa gembira. gadis kecil itu hanya menatap dari balik jendela. dilema antara memuaskan keinginannya atau mematuhi kata-kata orang tuanya.

Gadis itu hanya berucap membesarkan hatinya “nggak usah main sama temen-temen deh.. sebentar lagi kan papa pulang.. aku bisa main sama papa..”

gadis kecil itu menunggu dan terus menunggu.. hingga dewasa pun dia masih terus menunggu…

by : Luvie